Review Novel “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah”


Bekesong City, 30 Juni 2012,

Selamat Malam Kawan, apa kabar semuanya,, Bagaimana hari kawan hari ini ,,

Bagaimana weekend kalian, apakah menyenangkan,, ‘

Hari ini adalah hari terakhir lomba Review Novel “Kau , Aku dan Sepucuk Angpau Merah” seperti biasa si pemalas ini selalu hobi mengulur-ngulur waktu,dan sekarang jam 11:35 Malam, 25 menit lagi menuju jam 12 Malam, deadline lomba malam ini ,jadi kawan,, inilah reviewnya,,  Kau , Aku dan Sepucuk Angpau Merah,,” Karya Tere Liye “

  A.  Sisi lain dari novel ini

Asal muasal Novel ini

Novel ini berawal dari tulisan Bang Tere Liye,  di account facebooknya pada pertengahan tahun 2010, awalnya judul dari novel ini adalah “ Kau, Aku dan Kota Kita” . Novel ini dijadikan open source sama si Abang , jadi nih ya, si Abang ngebebasin kita para pembacanya untuk nyumbang ide, akan dibawa kemana novel ini , kita bebas berpendapat,, selama itu masih masuk akal pasti di pertimbangkan .

 Dan kemudian kami para penggemar si Abang mulai sibuk ngasih banyak komentar, saran dan semua cecerepet lainnya, hebat kan gakk semua penulis mau dan rela tulisanya di kritik , di komentarin, dan di baca oleh banyak orang, sebelum tulisan itu jadi naskah dan di kirim ke penerbit,, inilah sisi lain dari seorang Tere Liye yang selalu saya kagumi

 Jumlah Episode yang berbeda,

Jumlah episode yang ada di novel ini sebanyak 37 episode, dan jumlah episode di facebook sebanyak 65 episode,

Perbedaan jumlah episode ini membuat adanya sedikit perbedaan jalan cerita, dan ada beberapa bagian yang tidak terceritakan,

Seperti kisah cinta Pak Tua (*padahal menurut saya ini mengharukan,,

Perbedaan Ending Cerita,

Walaupun novel ini adalah open source yang kemudian di bukukan, tapi antara novel dan catatan si abang memiliki perbedaan,,

Ending yang berbeda, drama yang berbeda membuat siapapun yang pernah baca catatan si Abang di facebook tidak akan pernah menyesal untuk membeli novel ini

B) Cerita..

Saat kamu ke Toko Buku, dan menemukan novel ini , maka bacalah bagian belakang dari novel ini , synopsis singkat dari novel ini akan membuat siapapun yang membacanya berpikir “Seberapa hebat sih kekuatan novel ini “

 Ada Tujuh miliar penduduk bumi saat ini , jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih dari cerita cinta,akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar , harap-harap,cemas, gemetar ,malu-malu menyatakan perasaanya,

 Apakah Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini , sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain, sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini . Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir sampaikan kemana-mana seberapa special kisah cinta ini , ceritakan kepada mereka,,

 

Saat kamu membaca penggalan synopsis ini , pasti kamu akan berpikir “ Gile cyin,, keren bet dah sinopsisnyee, emang bagus bangatt,apa bedanya sama Metropop dan Novel cinta yang selama ini selalu hadir di toko buku terkenal”

 

#tarik nafas dalam –dalam,,

 Tenang kawan novel ini jauh berbeda dari novel-novel Metropop yang selalu hadir di toko buku dengan konsep kemewahannya, dan hedonitas masyarakat ibu kota,,

 Novel ini juga jauh berbeda dari cerita-cerita cinta yang hadir dengan seribu satu alur dan plotnya, jika kebanyakan cerita cinta hanya membahas cerita dan konflik yang ada diantara dua manusia yang saling mencintai,,

 Maka Novel ini hadir tidak hanya tentang kisah cinta sepasang kekasih,, tapi juga sebuah konsep-konsep kehidupan,, sebuah kisah tentang kehidupan komunitas masyarakat sebuah perkampungan di Pontianak,,

 

#tiba tiba ada yang nyeletukkk (*woii reviewnya mana woi,, cerita mulu,,,,

#dilempar bata,,

 

Sebuah kisah tentang kehidupan masyarakat kota Dipinggiran sungai Kapuas, di sebuah perkampungan Kota Pontianak Kalimantan Barat,

 Kawan tahukah kalian kenapa Pontianak di beri nama Pontianak ,,

Apakah selama ini kalian pernah berpikir kenapa Pontianak diberi nama Pontianak, nama yang berbeda bukan dengan kota-kota lain di Pulau Kalimantan seperti Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin,

 

Kawan pernah gak kalian mikir,,ada gak ya hubungan Pontianak dengan kuntilanak,, ayooo siapa yang pernah mikir ke arah sana tunjuk tangan,,,

 

Exactly kawan,, benar sekali,, Pontianak adalah nama hantu dalam bahasa Melayu sebelas dua belas dengan Kuntilanak, konon  pendiri kota ini harus mengalahkan si Ponti saat membangun istanannya, untuk mengenang hari dimana sang musuh besar di kalahkan dan menjadikan legenda sepanjang masa, maka sang pemuda memberi nama kota itu dengan naman  “PONTIANAK” 

   Sebuah perkampungan di pinggiran sungai Kapuas dengan riuh rendah komunitasnya

Pak Tua, Sang pengemudi sepit senior, umur  , keturunan melayu,tokoh yang selalu hadir dengan kebijaksanaanya, pemikiran-pemikirannya akan indahnya hidup jika kita mau melihat lebih dekat,  Pak Tua adalah sosok yang di segani  dan selalu di hargai pendapatnya, oleh seluruh warga kampung di pinggiran sungai Kapuas

Bang Togar , dari namanya kita pasti tahu bahwa si Abang ini adalah pria keturunan batak yang hidup dan menetap di Pontianak , Tegas, Keras Kepala dan Rada-Rada Bossy, seharusnya si Abang ini menjadi sosok yang menyebalkan di cerita ini , tapi di balik semua hal buruk ini , Bang Togar adalah sosok yang bijaksana, dan berhati paling lembut diantara yang lain, mungkin ya bow, sifat keras kepalanya itu hanya karena Laki-Laki itu tidak mampu atau tidak mengerti bagaimana mengutarakan isi hatinya,,

Cik Tulani, Seorang Perempuan keturunan melayu, pemilik rumah makan yang menjual pindang sebagai makanan khasnya, pelit, cerewet,  (*tipikal ibu-ibu rempong pada ibunya,, )

Koh Acong, Laki laki, dari namanya kita pasti tahu bahwa dia adalah seorang pria keturunan tionghoa,, pemilik sebuah toko kelontong, jago hitung menghitung gak perlu pakai kalkulator kalau sama Koh Acong mah,

Andi, sahabat Borno sang tokoh utama, keturunan bugis,ceroboh, cerewet, bujang lapuk , sang pecinta, tapi Andi adalah sosok sahabat sejati yang selalu siap menjadi pendengar setia, selalu hadir dalam suka dan duka,

Mei, Seorang Gadis bermata sendu, keturunan tionghoa, tokoh utama perempuan, Mei lah yang mewakili selurur cinta dalam novel ini ,cantik, putih, tinggi, dan tatapan sendunya, selalu menjadi misteri bagi mereka yang mengenalnya,,

Borno,, Anak Muda di pinggiran sungai Kapuas, keturunan melayu , tokoh utama dalam cerita ini , anak muda paling berhati mulia di sepanjang tepian sungai Kapuas, di cintai oleh setiap warga, berpikiran maju ke depan, dan berani bermimpi, tapi diluar semua hal baik itu, borno tetaplah borno laki-laki yang rapuh dalam cerita cintanya,

Kawan,,lihatlah , cerita ini bukan hanya mengisahkan dua tokoh sepasang kekasih semata, tokoh-tokoh yang saya sebutkan diatas, semuanya memiliki fragmen dan bagian penting dalam cerita ini ,,

Cerita ini bercerita tentang keberagaman hidup di sebuah komunitas masyarakat, ini adalah cerita tentang potret masyarakat Indonesia dalam keberagamannya,,

Ah ya, saya melupakan sesuatu, bagian penting dalam novel ini,, ya Novel ini bercerita tentang Borno dan Cinta pertama nya bersama Mei,,

Kawan pernahkah kalian mendengar sebuah petuah nasihat dari para tetua kita dulu,,

“Setiap manusia di dunia ini, akan memiliki satu orang yang mencintai nya sepenuh hati, mencintai dia apa adanya,,mencintai pasangannya lebih dari dia mencintai diri sendiri ,

Setiap manusia di dunia ini akan memiliki kisah cinta nya sendiri, dan itu akan menjadi kisah cinta sepanjang masa, yang tak kan terlupakan hingga akhir hayat,, kita menyebutnya cinta sejati,, namun kawan,, tidak semua manusia di dunia ini beruntung bisa menikah dengan cinta sejati mereka, hanya mereka yang beruntung yang kelak bisa menikah dengan cinta sejati mereka “

Dan juga nasihat dari Pak Tua,

Cinta sejati selalu menemukan jalan Borno, ada saja kebetulan, nasib,takdir atau apalah sebutannya, tapi sayangnya orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya selalu memaksakan jalan cerita,khawatir,cemas serta berbagai perangai norak lainnya, Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut, Jika Berjodoh Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baikknya,

 

Dan nasihat –nasihat itu terangkum dengan indah dalam cerita ini ,sebuah kisah tentang cinta pertama, bagaimana indahnya jatuh cinta, pengorbanan –pengorbanan atas nama cinta, prasangka atas cinta, cemburu,  merasa terbaikan hingga kemudian patah hati ,dinamika cinta itu tertuang indah dalam cerita ini

Kawan pada saat kamu membaca lembar demi lembar novel ini ,maka di akhir cerita, saat kamu menutup novel ini , percayalah, kamu akan menemukan pemahaman baru, bukan hanya tentang bagaimana kita seharusnya memaknai cinta itu sendiri, tapi juga bagaimana kita seharusnya memaknai kehidupan,,  ah ya, pemahaman baru yang akan kalian dapatkan bukan hanya tentang cinta semata, tapi juga kalian akan semakin mencintai Indonesia, dan Pontianak – Sepit – dan Keindahan Pinggiran Sungai Kapuas akan menjadi salah satu tempat dari berbagai tempat indah di Indonesia yang ingin kalian kunjungi .

 

 

 

 

 

 

About these ads

12 thoughts on “Review Novel “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah”

  1. —berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan.

    Pak Tua (Tere Liye – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah; p.429)

    ~~~

    NAH!!

  2. cinta sejatimu pada karya2 Tere Liye akan menemukan jalannya.. :P

    eMak yakin ruh menulis Inon akan terus menguat, hari demi hari.
    sukses wat kontesnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s