Susah Senyum Susah, Senang Senyum Senang


Malam ini jari-jari mengarah ke situs andriewongso.com, diantara banyak judul yang menarik, pointer menunjuk ke judul “Indonesia, Negara Yang Paling Murah Senyum”, hmm…judul yang menarik untuk dibaca malam ini.

Pada artikel tersebut disampaikah bahwa berdasarkan hasil survei The Smiling Report tahun 2008 yang di rilis di tahun 2009, Indonesia merupakan Negara yang penduduknya paling murah senyum dan paling sering mengucapkan salam di dunia ini.

Sungguh berita yang membahagiakan diantara hiruk pikuk berita negatif.

Kemudian Saya mencoba searching lagi di google. Berdasarkan press release dari The Smiling Report 2011, Negara paling murah senyum di tahun 2010 adalah Portugal (94%), ke dua Austria (93%) dan diikuti oleh Paraguay (92%).

Hah… Indonesia sudah tidak ada lagi di urutan pertama, ini jadi berita yang menyedihkan..

Tapi…   sudahlah..

Let us to  Positive thingking first..

Berita ini bisa jadi “lampu kuning”  yang menjadi peringatan bagi kita untuk kembali meluangkan waktu tersenyum bagi keluarga, sahabat,  rekan kerja, pelanggan,  dan siapa saja di sekitar kita.

Seperti hadist Nabi Muhammad SAW “senyum itu adalah ibadah”. Yang namanya ibadah pasti dapat pahala, meski terkadang kita tidak tahu seperti apa balasannya untuk kita, tapi yakin saja dulu.

Saya sendiri punya pengalaman mengenai senyum.
Tahun lalu Saya pulang kampuang, di Pasar Atas Bukit Tinggi Saya membeli cincang untuk nenek Saya.
 
Sebelum masuk ke restoran Saya berpikir panjang, ehmm… nanti kalau Saya beli dimahalin gak ya? maklum pengalaman di Jakarta selama ini, sering kalau orang yang kelihatan “orang baru” akan diberi “harga lebih”.
Atau.. mungkin diberi porsi yang agak “minimalis” dibanding yang umumnya?.
 
Di sisi lain Saya harus membeli cincang ini karena nenek Saya suka cincang, di restoran ini cincangnya terkenal enak, apalagi Saya jarang pulang kampung.
 
Saya memberanikan diri masuk ke dalam restoran tersebut sambil tersenyum lebar dan tertawa, “Da Cincang Ciek..”, si Uda reflek tersenyum lebar dan berkata “Oi..ba’a kaba (bagaimana kabar).. ?, lamo ndak nampak ha (lama tidak kelihatan).., kama sajo (kemana saja)..?, ba’a kaba anak rumah..?” (anak rumah bisa diartikan dengan istri)”.
 
Saya terkejut dengan serangan balik sekaligus “hatrick”nya, karena Saya sendiri merasa tidak kenal dengan si uda ini, kenapa dia seakan-akan kenal Saya ya? Apalagi menanyakan kabar istri segala (fyi,…Saya belum menikah).
 
Saya tersenyum kembali, “ha..kaba baiak Da., anak rumah di rumah amaknyo” (menurut Saya kalau istri orang ya di rumah orangtuanya, karena umumnya dalam budaya minang, seorang wanita yang telah menikah akan tinggal di rumah orangtuanya).
 
Tak terasa tangan lincah si Uda sudah selesai membungkus cincang dalam plastik bening besar, sambil berkata  “salam untuk anak rumah jo mintou (mertua), makan nan banyak yo…, tu.. acok-acok ka siko..(sering-sering ke sini)” ,
“aman tu Da….beko awak sampaikan, wa’alaikum salam sajo dulu yo da, pesan terkirim.. ha…ha..ha.ha..” timpal saya.
 
Si uda kemudian mengarahkan saya untuk membayar di kasir, dan  Sayapun dikenakan  tarif seperti sama seperti orang lain umumnya (sst…Saya sengaja mendahulukan orang lain membayar sambil mengintip pembayarannya untuk memastikan harga yang sama).
 
Sesampai di rumah dengan cincang yang wanginya menusuk hidung penumpang se-angkot dan panasnya masih terasa di paha, Nenek Saya kaget, karena tidak biasanya membeli cincang dapat porsi sebanyak itu, “bara ba bali ko..?, banyak bana..(berapa ini dibeli, banyak benar) “. itulah interogasi yang berulang kali dilontarkan nenek karena mungkin menurutnya ini tidak mungkin untuk ukuran  satu  porsi.
 
“ciek nyo mak.., picayolah…, ma (mana) mungkin ko duo..” jawab Saya.
 
Aha.. Saya berpikir, ini mungkin manfaat senyum tadi.
 
Saya membayangkan kalau tadi Saya belanja sambil pasang muka masam lagi pedas, mungkin Saya akan dapat menu minimalis.
 

Kembali ke lapetope..

“Senang Senyum akan menyenangkan, Susah Senyum akan menyusahkan”

Mari kita tersenyum, karena senyum adalah ibadah, senyum merupakan hal yang mudah dan senyum tidak mengeluarkan biaya.

Semoga di tahun 2012, hasil The Smiling Report akan menempatkan Indonesia di peringkat satu kembali untuk Negara yang murah senyum.

Selamat Hari Kartini untuk semua wanita Indonesia, khususnya wanita tiga generasi (umak, mama & inon), “lanjutkan perjuanganmu untuk menerangi dunia”

aiko at Patriot City, on Kartini’s Day, 2011

note :

Data-data (The Smilling Report) yang disampaikan dihimpun dari para Mystery Shopper, yaitu orang-orang terlatih untuk merasakan dan mengukur proses pelayanan terhadap pelanggan.

Mystery Shopper ini berpura-pura sebagai pembeli atau pelanggan potensial untuk selanjutnya melaporkan pengalamannya. Para Mistery Shopper ini disebut juga pelanggan anonim (anonymous customer), tamu virtual, atau pelanggan percobaan.

Pustaka:

http://www.andriewongso.com/awartikel-2865-AW_Corner-Indonesia,_Negara_yang_Paling_Murah_Senyum

http://www.detiknews.com/read/2009/05/17/141027/1132809/10/indonesia-masih-paling-murah-senyum

http://www.smilingreport.com/press/2011/Smiling_PRESS_RELEASE_2011-03-14.pdf

20 thoughts on “Susah Senyum Susah, Senang Senyum Senang

    • hahhhaaa.. tulisan si abang lah tu pastinyo..

      kmrn waktu Inon yg beli cancang di bukik dapet banyak gak..?
      mak liat senyumnya juga udah maniiiss banget😛

  1. masa sih orang indonesia murah senyum?
    berdasrakan pengalaman gua malah gak lho.

    si andrew tuh dulu pernah ada masanya kalo ke mal suka banget nyapa orang2 lewat. orang gak kenal. either pengunjung mal lain yang kebetulan dia liat, atau mbak2/mas2 penjaga toko. semua dipanggil ama dia. ‘hi’. dan kalo disini… selalu dibales ‘hi’ plus senyum ama siapapun yang dipanggil andrew.

    nah pas desember 2009 kita pulang indo untuk liburan. si andrew juga tetep gitu dong kalo lagi di mal-mal. tapi… gak pernah sekalipun (not even once) ada yang bales! semuanya tampangnya lempeng kayak gak ngeliat orang. kasian deh ngeliat si andrew kayaknya dia bingung kok orang2 pada diem aja dia tegor. boro2 senyum… ampun dah sampe gua ngeliatnya juga gemes. orang ditegor anak kecil lho, mbok ya senyum kek… sampe akhirnya pas belakangan kita di jakarta, si andrew udah gak pernah negor2 lagi lho. padahal kan dia cuma berusaha ramah aja…
    kayaknya dia ngerti kalo di jakarta orang2 nya pada gak ramah. soalnya setelah balik kesini, dia negor2 lagi kalo di mal. hehehe.

    dari kecil di sekolah emang kita udah sering denger kalo orang indonesia murah senyum. ramah tamah. tapi gua bilang itu mitos doang. entah apa dulunya begitu tapi sekarang gak lagi? gak ngerti juga. tapi dari yang gua liat… orang indonesia itu gak ramah… gak ramah terhadap sesama orang indonesia! orang indonesia itu cuma ramah kalo sama orang asing! beneran lho. aneh deh…

  2. Kalau orang yang tinggal di kota besar, misalnya Jakarta, udah susah nyari yang mudah/murah senyum.
    Teman sendiri saja, kadang kalau nggak disenyumin atau disapa duluan, ya cuek😀
    Apa karena hidup semakin berat/susah, org Indonesia jadi malas tersenyum.

  3. iya mungkin tergantung dari domisili tempat kita tinggal kali ya..di Jakarta mungkin agak susah nyari orang yang suka senyum sama orang lain..yang ada malah saling curiga satu sama lain, yang penting mah jaga diri sendiri ga sah sok baik sama orang, apalagi yang lom dikenal.

    Beda ma di kota kecil or di kampung, aplagi di jogja ni..waaaaahh disini mah orang2nya ramah ramaaaah..ga kenal jg bs bertukar senyum dengan ikhlas..hehe

  4. wkakakkaak
    gw ngerasa dai pertama ini bukan tulisan lu! terlalu ilmiah!😀

    gw senyum terus lho, saking sering senyum gw pernah dibilang: are you okey??? *nah lho…dikira sarap sama orang amerika

  5. Pingback: Tentang Posting Tiap Hari,, « Rumah nya USAGI

  6. kalau menurut saya jakarta atau kota besar di negeri ini mayoritas sudah tidak ramah lagi contohnya jalan2 di tempat umum ada yg ga sengaja injek kaki bukannya minta maaf tapi melengos aja…weleh2 kenapa yah dengan negeri ini? Kalau di kampung2 saya percaya masih ada yg ramah dan murah senyum tapi untuk kota besar…menjadi barang langka untuk komentar tulisan….yang pasti bukan putri yang nulis…bahasanya beda banget….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s