Tiga Perempuan Satu Cerita,,,


Bekesong City, 5  September 2011

hari ini saya bertemu dengan 2 orang kawan.pertemuan yang panjang,, kami menghabiskan waktu sepanjang hari dengan duduk ngobrol bersama,, menghabiskan satu donat,, dan segelas kopi,, duduk berpindah dari satu meja ke meja lain,dari satu cafe ke cafe lain…menghabiskan waktu bersama..

biasa nya saya berteman dengan orang orang yang lebih tua dari saya,,berteman dengan mereka yang jauh diatas saya hal ini memiliki keuntungan tersendiri,,karena saya akan menjadi si bungsu di antara mereka,,dan mereka akan iklas ataupun tidak iklas menerima sikap kanak-kanak saya…😀😀😀

kali ini saya menemukan sebuah cerita yang baru,,kami semua seumuran,, sama sama menginjak angka 26,, dan memilki  banyak cerita yang sama, dan kami pun bercerita banyak,, terkadang kami tertawa ngakak hingga para pengunjung kafe itu melirik kearah kami dan mungkin yang ada di pikiran mereka adalah… *gila ya ini perempuan 3 orang, tapi suara udah kaya sekampung..”

terkadang kami terdiam dan mencoba merenungi berbagai kisah yang “sama” yang kami hadapi.. “dan berkata,,gila yakk kok bisa sama,, lo apa gw sich yang drama queen,,”

kami 3 perempuan,, lahir dari lingkungan yang berbeda,,punya mimpi yang juga berbeda,,tapi kami punya satu cerita yang sama yang  mungkin lazim di hadapi anak-anak seumuran kami,, maka kami menyebut nya,, “sindrom 26” 

A) Betapa REMPONGNYA orang orang di sekitar bertanya tentang kapan kami MENIKAH..

ha..ha..ha. topik khas sepanjang masa,, pertanyaan yang akan selalu menghantui selama kami belum menikah,, jujur dech ya,,saya selalu geregetan buat pertanyaan ini,, hai kalian para ibu ibu rempong,,

bisakah kalian berhenti bertanya kapan kami memutuskan untuk menikah…jika dulu hanya sebuah pertanyaan “kapan” maka sekarang kalian akan sibuk memberi nasehat,, mulai dari fitrah agama,,kodrat,, mengingkari takdir hingga membandingkan kami dengan orang lain…

asli dah pertanyaan saya,,Apa untung nya sich bagi kalian mengurusi kami sudah menikah atau belum,, apakah ketika kami memutuskan untuk menikah lantas kalian akan menyumbang pernikahan kami,, atau selanjutnya kalian akan membiayai kehidupan kami,,

gak kan,, kalian hanya akan datang di resepsi pernikahan kami,,mengucapkan selamat,,dan kemudian berlalu,,

dan tinggallah kami yang harus melanjutkan hidup dengan pasangan kami,,dan menjalani episode baru dalam hidup kami,,

hai kalian para bapak dan ibu-ibu rempong ,

berhentilah ikut campur dalam hidup kami,,biarkan kanlah kami menentukan jalan hidup kami,, segala sesuatu dalam hidup ini akan indah pada waktu nya,, jadi nyantai aja cyin,, gw aje gak repot,,kenape juga lo yang repot…

B) Pertanyaan Kapan Lulus,,, yang juga menghantui,,

ha..ha..ha.. ha. jika kami tidak punya jawaban,,tentang kapan kami menikah, maka harusnya kami punya jawaban tentang kapan kami lulus kuliah…

ya pendidikan yang sudah menginjak entah tahun keberapa,,dan ada di titik tugas akhir yang menjemukan..baiklah untuk statement ini kami mengaku salah,, Terlalu MALAS hanya untuk mengerjakan sebuah tugas,, menunda-nunda dan menciptakan sejuta alasan,,

padahal jika kami mau,,mungkin dalam waktu 3 bulan lagi kami bisa lulus dan mempersembahkan gelar tersebut kepada orang tua kami,,

duhai kawan mari kita selesaikan gelar tersebut dan kemudian di pertemuan yang lain,, kita akan merayakan kelulusan tersebut,, i wish our dream come true,,

C) Betapa hebohnya keluarga kami,,

ya inilah bagian terlucu nya,,gila ya kita punya cerita yang sama soal keluarga,, para ibu-ibu kita yang hobi banget ngomel sana-sini ,,mendramatisir berbagai masalah yang ada.. dan kemudian kita sampai di kesimpulan yang sama,,apakah ketika kita jadi ibu nanti kita akan bertingkah yang sama,,

para ibu yang terkadang mengabaikan umur kita yang sudah menginjak seperempat abad,, dan masih menganggap kita anak kecil yang harus di lindungi,,di cariin kalau jam 6 sore belum pulang,,hingga menyindir kita dengan cerita..cerita…

Mama pengen deh punya mantu,,mumpung mama masih kuat, mama tuch punya mimpi untuk ngurus anak kamu.. (*bagian ini lebih membuat kami tertekan daripada pertanyaan para bapak dan ibu ibu rempong itu..

pertemuan yang panjang,,membahas berbagai macam kisah,,hingga pada akhirnya kami sampai pada satu titik,,

bahwa kami akan menikmati setiap moment dalam hidup kami,, akan tiba masa nya di suatu hari nanti kami merindukan setiap detik kebebasan yang kami miliki…jadi nikmati aja selagi kami mampu.

16 thoughts on “Tiga Perempuan Satu Cerita,,,

  1. hei, enjoy your life! Jangan pedulikan orang lain, toh mereka tidak memberi kamu makan? Tapi soal lulus, cepat-cepat karena kamu jadi bisa menentukan arah hidup yang lain, kalau sudah lulus.

    Usia 26, aku baru masuk prgram Master di Yokohama, lulus 28 th. Tinggal sendiri, sambil kerja dan belajar. Bersyukur orangtuaku tak pernah tanya ini itu, bahkan waktu aku memutuskan pacar yang sudah bergaul 7 tahun😀 Menikah di usia 31 tahun dengan pesta pernikahan di Jepang semua biaya sendiri🙂

    ssst makanya aku tidak mau tinggal di Indonesia, karena banyak yang resek!

    just be yourself! (ini kan katamu sendiri😉 )

    EM

  2. Kebanyakan keluhan dari para perempuan yang sudah mencapai umur di atas 25 tahun atau laki-laki di atas 30 tahun adalah seperti yang Putri sebutkan di atas. Memang menyebalkan, tapi mari lihat sisi positifnya…

    Bagaimana kalau itu kita anggap sebagai ekspresi kepedulian mereka terhadap kita? Kepedulian yang tumbuh dari budaya dan adat kebiasaan masyarakat kita.

    Dalam budaya kita, perempuan berusia 25 tahun ke atas atau laki-laki usia 30 tahun ke atas sudah layak berumahtangga, dan bukankah sebuah kewajaran jika mereka mempertanyakan hal tersebut?

    So, santai sajalah, tidak usah gusar, dan tidak pula perlu menggerutui para tetua kita tersebut. Toh, mereka hidup di masa yang berbeda dengan kita. Berbeda suasana, berbeda paradigma dan berbeda budaya. Maka, pahami sajalah tingkah mereka tersebut. Dengan demikian tidak akan membuat kita terlalu uring-uringan…

    Alamaaaaakkk…. kok aku nulis komennya kepanjangan? Sorry ya Put…. anggap saja aku sebagai salah seorang dari bapak-bapak rempong itu ya… hahahaha…

  3. hehe kadang pertanyaan2 yang kesannya annoying itu sebenernya karena orang itu perhatian ama kalian lho. atau ya karena sekedar mau basa basi dan mau memulai percakapan.
    jangan terlalu dianggep negatif.🙂

  4. Betapa REMPONGNYA orang orang di sekitar bertanya tentang kapan kami MENIKAH

    Apa kagak ada topik yang laen apah ?
    hahaha
    lama-lama jadi hal menakutkan lho … karena dipikirin terus …

    Salam saya

  5. Nambah lagi …
    ” … para ibu-ibu kita yang hobi banget ngomel sana-sini ,,mendramatisir berbagai masalah yang ada …”

    Yang mendramatisir itu ibu kalian ? atau justru kalian sendiri ??

    (tersenyum)(memaklumi)

    salam saya

  6. besok besok , ngeluh apa lagih nih non?
    kemarin si biru, trus, ibu2 dan bapak2 rempong?
    besok siapa lagi?
    mamih mau ikutan nanya akh ….. hihiihihhi😛
    kapan ya mamih dan eMak bisa ikutan berdiri didepan para tetamu di pernikahahn inon ?
    mamih khan dah sepuh, nanti gak keburu lagih ….. hihihihi 😛😛
    ( mamih super rempong)
    salam

  7. nasip yang sama …. dan pertanyaan yang sama pun sering dilontarkan ke saya …

    Kapan Kamu Menikah ???

    Kapan Kamu Lulus ????

    terkadang ingin rasanya pergi ke suatu tempat dimana gak ada seorangpun tahu tentang saya … jd gak perlu ada pertanyaan semacam itu …..

  8. hei kak putri, jangan terlalu memusingkan hal-hal semacam itu~😮
    yang penting, jalani saja kehidupan ini dengan perasaan senang dan bahagia~😉
    *kayaknya seru ya kalau 3 wanita seperti di cerita kakak bertemu~:mrgreen: )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s